Aku (ingin) Menjadi Seorang Istri :P


Sebenernya udah sejak kulaih semester 2 ga tau kenapa hati ini digelitik perasaan INGIN NIKAH, hohoho. Dan Ok aku pun realistis bahwa Nikah itu ga gampang dan ga mungkin sekarang, haahha 😀

Entah mungkin akhirnya naluri wanita dewasa udah menjangkiti ato gimana, tapi jujur aja berdasarkan survei yang aku lakuin ke temen2 cewe, mereka sebagian besar pernah memimpikan INGIN MENJADI SEORANG ISTRI *yaiyalah pasti* 😛

Kami para cewe kalo ngumpul pasti punya banyak bahan obrolan, mulai dari yang ga penting sampe yang pentuing banget 😛 . Salah satunya adalah nikah, yup, hohoho. keinginan yang mulia bukan?? hmmm menurutku keinginan saja udah dapat dinilai mulia loh, soalnya bisa dibilang hanya sedikit gadis-gadis yang berani memimpikannya. Sisanya?? hmm tentu aja masih pengen bergelut ma *dunia remaja* hehehe (OK aku dah ga remaja lagi, huh!)

Pernah suatu hari sahabatku dapet undangan nikah dari temennya, aku juga liat undangannya sih dan jujur pas abis baca tuh undangan, kita berdua langsung senyum-senyum geje, Entah ada apa di pikiran kami saat itu, Merasa ikut seneng? yup so pasti itu, tapi sisanya ?? KAMI JELES!! hahaha 😀

Kami cuma bisa bayangin hal-hal ngaco tentang gimana nanti kalo kami nikah dan bla bla bla *biasa cewe* -_____-!

Tapi abis bermimpi kami pun harus balik lagi ke realita, “Kuliah woy, Tugas Woy ” hahahaha. Yup biarkan kami hanya berani bermimpi setidaknya kami memiliki sedikit impian manis 🙂  Aku pun masih ingin meraih citaku, sama seperti mereka. Dan aku pun masih ingin membahagiakan wanitaku 🙂 Biarlah Allah saja yang mengaturnya nanti, aku dan mungkin kami para wanita hanya menunggu “diminta” oleh lelaki yang dipilih ma Allah, Lelaki yang terbaik ^_^

Yup tapi itu biarlah kami, tentang kami yang mungkin hanya masih bisa bermimpi saat ini. Tapi nanti, suatu hari nanti Allah pasti ngasih kekasih yang baik hati banget buat kami, buat kami para cewe, ups…  wanita aja deh (biar kliatan dewasa) yang udah berani bermimpi 🙂

*Istri yang baik itu :: mampu menyejukkan hati suaminya, lemah lembut tutur katanya, patuh pada suaminya, mampu menjaga aib suami, menjaga hartanya, tidak banyak menuntut, pengertian, dan sabar…”

Yaa Rabb, We wish that we could be a good wife, someday… Amin ^_^ ♥

**…~ Aku (pernah) Takut Berjilbab ~…**


Aku tak akan pernah berhenti untuk ini

Aku akan selalu berjuang untuk ini

Karena bagiku ia tak hanya simbol bagi agamaku

Karena ia bagiku tak hanya juntaian kain yang menutupiku

Ia adalah keberanian bagiku

Keberanian untuk melawan bisikan hati yang pernah menolaknya

Karena Ia adalah salah satu cara bagaimana Allah menjagaku

*Tentang Cerita:*

Aku mendengar mereka bertanya , ” Tak takutkah kamu akan hijabmu yang akan membuatmu tak dapat bekerja?”. sebuah pertanyaan yang hampir saja membuat gadis ini menyerah akan hijabnya. Membuatnya berfikir, hingga ia dapat berontak pada hatinya dan berkata, “Sesungguhnya Allah lah yang mengatur segala apa yang ada dalam hidupku, termasuk rizki untukku, aku TAK TAKUT hijabQ akan menghalangi rizki untukku!

Kudengar mereka bertanya lagi, ” apa tak merasa panas kah kamu dengan pakaian setebal ini?”.

“sesungguhnya api neraka itu lebih panas dan lebih kutakuti dari pada panasnya baju ini.” jawab gadis berat mengingat ini.

Kemudian mereka datang kembali dengan sebuah pertanyaan yang menelisik hati,” Apakah kamu tidak khawatir dengan hijabmu ini akan menghalangimu untuk mendapat jodoh?” Ia hanya tersenyum dan berkata,“…Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik ….(QS An Nuur :26) dan sungguh aku meyakini dalam hati bahwa Allah akan memudahkan segala urusanku.”

Betapa berat sesungguhnya menjadi kaffah, gadis berat mengingat ini pernah dicaci atas hijabnya, pernah di jauhi atas hijabnya, pernah di jatuhi berbagai vonis atas hijabnya, sungguh tak mudah sebenarnya menjaga hijab ini. Tapi di sinilah ia berjuang, dari sinilah ia mulai tak takut dan malu lagi atas hijabnya, karena ia percaya Allah dekat, Allah akan memudahkan segalanya sekalipun sesuatu itu tampak sulit untuk dijalani.

*^~~~ La Takhof Wala Taias ~~~^*

Puisi Cinta Buat Allah ^_^


Ya Allah…
Tak apalah bila aku ini tak secantik mereka
Dapat terlihat cantik di mata-Mu dan suamiku kelak cukuplah itu bagiku

Ya Rabb…
Aku tak takut bila mataku hanya dapat melihat gelap
Karena sesungguhnya aku lebih takut apabila Engkau membutakan hatiku

Ya Illah…
Mungkin aku  pernah takut jatuh cinta karena aku takut bersedih dan patah hati
Namun aku tak pernah takut untuk mencintai-Mu
Karena hanya Engkaulah yang tak akan mematahkan hatiku dan membuatku bersedih

Ya Rahman…
Berikanlah aku cinta yang juga mencintai-Mu
Karena aku ingin cintaku dapat membawaku untuk semakin mencintai-Mu
karena sungguh aku takut Ya Allah bila aku kehilangan cinta-Mu bila aku berpaling atas cinta fanaku

Ya Rabbul Izzati
Bantu aku menjaga hatiku
agar ia tetap kaffah menjalankan perintahmu
karena tak akan mampu aku yang lemah ini melakukan segalanya bila tanpa-Mu

Ya Allah…
Tak apalah bila aku ini tak berharta karena aku takut tak sanggup menjaganya
karena aku takut hartaku yang berlimpah akan membuatku kufur dan lalai
Namun jadikanlah aku dapat berbagi walau dalam kekurangan

Yaa Rabb, Ini tentang kata “CINTA”


Ada banyak cinta Yaa Rabb

Aku melihatnya, aku merasakannya, dan aku mendengarnya

Engkau memberiku begitu banyak cinta, Terimaksih Yaa Allah ❤

Bukan sekedar cinta biasa, ini cinta yang indah bagiku

Dan ini…

Mereka, semua tentang mereka yang telah Kau hadirkan dalam hidupku

Mereka begitu indah dan sungguh terlalu indah

Mereka dan semua tentang mereka begitu menenangkanku ketika Engkau mengujiku dengan cinta-Mu

Aku mengenal mereka karena-Mu dan aku pun mencintai mereka karena-Mu

Dan ini..

Tentang mereka yang telah Kau jatuhkan hatiku pada mereka

Ini tentang bagaimana Engkau menjadikanku memiliki kecintaan pada mereka

Ini tentang bagaimana Kau menjadikan mereka sebagai bagian indah dalam hidupku yang teramat singkat ini

Mereka Yaa Allah..

Mereka adalah Ayahku, Ibuku, Keluargaku dan Sahabat-sahabatku

Uhibbukum Fillah ^^v

Indonesiaku dan Keindahan Kasus-Kasusnya T_T


Postingan kali ini cuma pengen sedikit curhat tentang otakku yang makin sakit gara2 liat berita2 di kotak ajaib alias tipi yang jujur makin GEJE!

Yahhh di tipi mau klik channel apapun skrg lagi demam bahas VIDEO PORNO MIRIP ARTIS, ZzZzZZz, jujur ngantuk liatnya -___-

Cuma heran satu hal, kenapa orang-orang sibuk terbuai ma masalah yang kalo menurutku ga begitu penting buat di bahas selebai ini, Helloooo masih banyak perkara di Indonesia ini yang lebih banyak membutuhkan perhatian intensif, kayak kasus bank Century yang ga jelas akhirnya, kasus Gayus yang menghilang dari media, kasus Lapindo yang entah itu gimana pertanggung jawaban dari mertua Nia Ramadhani de el el.

Indonesia yang menurutku sekarang ga ada bedanya ma Rezim ORDE BARU yang berkedok DEMOCRAZY, Indonesia adalah negeri indah yang memiliki pejabat-pejabat korup yang tajir-tajir, Pengacara jujur yang sedikit, rakyat melarat yang berceceran dimana-mana.

Balik ke kasus video porno, Heran juga ma orang-orang yang langsung treak-treak kalo video porno mirip artis-lah yang bikin banyak anak-anak di bawah umur jadi nonton film blue. Astagaaa kisah pelajar yang doyan nonton film porno udah ada dari jaman baheula kaliii.

Video Porno yang free akses dan pergaulan bebas remaja sekarang udah bukan rahasia lagi kalo itu semua adalah fenomena gunung es yang ga sering tersorot. Nyadar ga sih pemerintahan Indonesia kurang sigap dalam ngurus perkara internet, katanya banyak orang cerdas informatika di Indonesia, tapi kenapa mereka tak satupun berusaha memperbaiki moral bangsa dengan setidaknya mengunci akses pornografi sehingga ga mudah di akses. Selain itu coba UU pornografi juga diterapin ke warnet2 yang bebas pasti kita bisa liat betapa sebenarnya kasus peredaran video porno juga didukung dengan warung-warung internet yang bebas dan ga bersih.

Well, Kalo perkara ini aja bisa membuat kepolisian lari-larian ngurus neh kasus “perzinaan” sampe mau dihukum dan bla bla, tapi kenapa seolah sebagian besar lapisan masyarakat sering melupakan daerah-daerah prostitusi yang ga pernah dijamah. Kalo si Artis aja bisa masuk penjara gara-gara dianggap merusak moral bangsa dan meresahkan masyarakat atas videonya, lalu bagaimana dengan PSK yang berkeliaran apa mereka juga ga merusak moral dan meresahkan? Abis di razia ga dilakukan penyuluhan secara profesional sehingga para PSK pun jadi ga berubah lebih baik dan konon dari sumber yang saya peroleh biasanya PSK itupun “dipake” dulu ma oknum-oknum yang tadinya ngrazia. Gimana negeri ini bisa bersih?!?!?

Astaghfirullah jangan sampe di adzab negeri ini 😦

Peran Media dalam Kontroversi Terorisme Islam


Peran Media dalam Kontroversi Terorisme Islam

Oleh: Nina Reza Herdiyani[1]

Abstract

This article explains about the role of mass media in islamic terrorism issue. In which the mass media is one of tool that can controlled people’s mind. Media can be a good partner for human’s life but in some moment it can be like a monster that could changes human’s mind about some issues. Media effect are like the weather in many ways, the media are pervasive and always around us, it has influences are difficult to predict. The effects are very difficult to perceive until someone points them out (Potter, 2001: 260). For so long times media always create many facts about islam, they writes that islam is a religion of terror. Media and its power finally change every human’s mind about islam. The purpose of this article making is for explains about the role of media, how much its influences to control the audiences opinion, and how it could change the islam’s name as “religion of terror” and how’s actually the real islam.

Key words:

Media, islam, terrorism issue

Pendahuluan

Dunia ini dengan segala isi dan peristiwanya tidak bisa melepaskan diri dari kaitannya dengan media massa dan demikian juga sebaliknya, media massa tidak bisa melepaskan diri dari dunia dengan segala isi dan peristiwanya. Hal ini disebabkan karena hubungan antara keduanya sangatlah erat sehingga menjadi saling bergantung dan saling membutuhkan. Segala isi dan peristiwa yang ada di dunia menjadi sumber informasi bagi media massa. Segala peristiwa-peristiwa di dunia ini dapat diketahui melalui pemberitaan atau publikasinya dalam aneka wujud (berita, artikel, laporan penelitian, dan lain sebagainya), dari yang kurang menarik sampai yang sangat menarik, dari yang tidak menyenangkan sampai yang sangat menyenangkan, tanpa ada batasan kurun waktu. Pada dasarnya, kondisi di dunia nyata mempengaruhi media massa, dan ternyata keberadaan media massa juga dapat mempengaruhi kondisi nyata dunia. (Rivers, 2003: 8).

Namun media juga tidak selalu memberikan informasi yang benar-benar berdasarkan fakta, media terkadang memanfaatkan kemampuan mereka sebagai pengendali opini publik untuk malah menyamarkan fakta yang ada dan menciptakan fakta-fakta yang mereka ulas berkali-kali seolah itu merupakan fakta yang benar. Dan dari sinilah opini publik berubah dan mulai tebentuk dengan keragaman fakta baru yang diangkat oleh media. Media memang luar biasa dalam memberi pengaruh di kehidupan masyarakat, segala yang diangkat oleh media akan menjadi sebuah peluru kendali yang tak mudah diralat apabila pelempar opini tidak menarik atau merubah fakta yang dikemukakan atau diangkat. Dan kemampuan media memberi pengaruh memang luar biasa dan sulit untuk diprediksi pula sebesar apa dampaknya.

“Media is like weather. Like the weather, the media are pervasive and always around us, it has influences are difficult to predict, because the factors that explain such effect are large in number and their interaction is very complex. The effects are very difficult to perceive until someone points them out. (Potter, 2001: 260)

Dalam artikel ini “Islam” menjadi sumber topik bahasan reka ulang fakta yang dilakukan oleh media. Tentang bagaimana kekuasaan media berlaku, tentang bagaimana cara media menentukan realitas hadir dan mempengaruhi persepsi publik dengan keahlian mem-framing berita yang dimiliki.

Media, Isu Terorisme dan Opini Publik

Seperti yang diketahui bahwa media merupakan salah satu pembentuk opini yang paling hebat. Karena media dapat memfokuskan perhatian publik dan memengaruhi persepsi publik tentang apa yang menjadi isu penting. Kemampuan mempengaruhi dan mengarahkan publik agar berpikir tentang isu tertentu, sehingga menjadi prioritas pemikiran dan topik pembicaraan, dikenal sebagai peran penempatan agenda media (McCombs, 2006: 11). Karena publik cenderung akan menjadikan sebuah informasi yang disampaikan dan diulang secara terus menerus menjadi sebuah fakta, entah itu merupakan fakta yang valid atau memang fakta yang sengaja direkayasa.

Media bukanlah sarana netral yang menampilkan berbagai ideologi dan kelompok apa adanya, media adalah subjek yang lengkap dengan pandangan, kepentingan, serta keberpihakan ideologisnya. Janet Woollacott dan David Barrat menegaskan pandangan para teoritis Marxis bahwa ideologi yang dominanlah yang akan tampil dalam pemberitaan (Wollacott, 1982: 109, Barrat, 1994: 51-52). Media berpihak pada kelompok dominan, menyebarkan ideologi mereka sekaligus mengontrol dan memarginalkan wacana dan ideologi kelompok-kelompok lain. Kelompok-kelompok dominan inilah yang akhirnya mem-blow up berita-beita terorisme islam dan menjadikan isi beritanya seolah-olah islam adalah agama radikal dan penuh dengan makna terror dalam ajarannya.

Keberadaan media yang begitu dekat dengan berbagai kalangan masyarakat dan begitu mendominasi inilah yang akhirnya menjadi salah satu pemicu terbentuknya pemikiran atau cara pandang baru terhadap sebuah masalah atau isu yang diangkat, salah satunya tentang Islam dan Terorisme. Pemikiran publik yang mulai di racuni oleh berbagai testimoni tentang terorisme islam berdampak kepada tanggapan publik sendiri tentang islam dan kaum muslimin, hal ini tentu saja pada akhirnya menciptakan spekulasi antar sesama kaum muslim untuk melahirkan sikap saling curiga di tengah-tengah umat, bahkan bisa memunculkan sikap saling memfitnah. Sikap ini jelas-jelas sangat tidak terpuji dan diharamkan oleh Islam. Kemudian selain itu hal ini akan melahirkan tindakan melawan hukum (main hakim sendiri) terhadap pihak lain hanya karena curiga atau rasa khawatir yang berlebihan. Dan bahkan yang paling tragis melahirkan rasa takut di kalangan umat Islam terhadap agamanya sendiri, hingga tak heran jika sesama kaum muslimin sendiri sering terjadi ghibah dimana biasanya para muslim yang sedang berusaha untuk kaffah dan istiqomah menjadi sasaran caci bahwa mereka adalah “TERORIS”.

Fenomena Teror dan Terorisme

Teror adalah fenomena yang cukup tua dalam sejarah. Menakut-nakuti, mengancam, memebri kejutan kekeraan atau membunuh dengan maksud menyebarkan rasa takut. Istilah “terorisme” sendiri pada tahun 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik. Terorisme adalah fenomena dalam masyarakat demokratis dan liberal atau masyarakat yang menuju transisi kesana. Kaum teroris memanfaatkan kebebasan yang tersedia dalam masyarakat itu. Dalam insiden 11 September 2001 teror mencapai dimensi barunya, bukan sekedar menunjukkan sikap perlawanan atau menekan terhadap sebuah rezim, melainkan juga ingin memobilisasi sebuah konflik global dengan mengisi kevakuman ideologis yang ada sejak berakhirnya perang dingin. Skala gigsantis dari terror ini sukses memobilisasi opini politis global untuk mengarahkan kepada pembentukkan antinomy “kawan” dan “lawan” pada skala global.

Terorisme termasuk ke dalam kekerasan politis, namun terorisme tidak selalu politis. Terorisme politis memiliki karakter sebagai berikut: (1) Merupakan intimidasi yang memaksa; (2) Memakai pembunuhan dan penghancuran secara sistematis sebagai sarana untuk tujuan tertentu; (3) Korban bukan merupakan tujuan, melainkan sarana untuk menciptakan perang urat syaraf, yakni “bunuh satu orang untuk menakuti seribu orang”; (4) Target aksi terror dipilih, bekerja secara rahasia namun tujuannya adalah publisitas; (5) Pesan aksi itu sudah cukup jelas, meski pelaku tidak selalu menyatakan diri secara personal; (6) Para pelaku kebanyakan dimotivasi oleh idealisme yang cukup keras, misalnya “berjuang demi agama dan kemanusiaan”. (Wilkinson, 1977: 49)

Hard-core kelompok teroris adalah fanatikus yang siap mati. Teroris nampaknya adalah seorang pribadi yang narsistis, dingin secara emosional, asketis, kaku fanatis dst.

“Jihad” Bom Bunuh Diri yang Merusak Citra Islam

Di negeri ini telah terjadi 63 kasus peledakan bom sejak tahun 1962–2002. Seperti yang terjadi tahun 2000, ketika C4 menghantam kediaman Kedubes Filipina di Jakarta yang memakan korban 2 orang meninggal dan 20 luka-luka. Atau tanggal 13 September 2000 di Gedung BEJ; dan 23 Juli 2001 di Atrium Senen Jakarta. (sekitarkita.com).

Sabtu (12/10), pukul 23.30 WITA, bom berkekuatan besar meledak di Bali. Meluluh-lantakkan diskotek Sari Club, serta bangunan dan benda-benda lain di sekitarnya dalam radius 10-20 meter. Peristiwa-yang selanjutnya disebut sebagai “Sabtu Hitam di Legian”-memang benar-benar merupakan peristiwa tragis dan memilukan. Siapa pun orangnya akan mengutuk pelakunya. Korban ledakan dalam peristiwa tersebut tercatat 187 orang tewas, 282 orang cedera, 4 bangunan rubuh, 20 bangunan rusak berat, 27 mobil rusak berat dan 7 buah motor rusat berat (Republika, 14/10/2002). Tidak ketinggalan di belahan dunia lain pun peristiwa peledakan bom menghiasi media massa. Peristiwa Bom Casablanca, Maroko dan Riyadh pada bulan Mei yang lalu. Atau Bom Bombay, serta Bom Najaf, di Irak yang menewaskan pemimpin Syiah Ayatollah Mohammed Baqer al-Hakim dan 126 lainnya pada 29 Agustus 2003 lalu.

Tindakan teror melalui peledakan bom ini memang menjadi momok bagi masyarakat. Dan hal ini diawali pasca tragedi WTC 11 September 2001. Tragedi yang memakan korban ribuan jiwa itu seakan memicu aksi-aksi peledakan bom di setiap penjuru dunia. Apalagi George W. Bush memanfaatkan peristiwa ini dengan mempropagandakan ‘War Against Terrorism’-nya untuk menguasai dunia. Akhirnya, setiap negara dipaksa untuk memilih: mendukung AS atau menentang AS. Pemaksan itu terlihat dari pernyataan Bush yang bernada mengancam. Dia berkata, “Either you are with us or you are with the terrorist.

Islam = Terorisme?

Dalam kaitannya dengan terorisme, muncul pertanyaan yang tidak pernah terjawab, adakah korelasi fungsional antara Islam dan Terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya? Memang, pertanyaan-pertanyaan di atas terus mengalir deras, sederas banjir. Stigmatisasi Islam sebagai agama teroris makin dahsyat. Ini terkait erat dengan maraknya gerakan Islam Politik yang menunjukkan pandangan-pandangan fundamentalistik. Fenomenanya, pasca-runtuhnya menara kembar WTC, respon sebagian besar gerakan Islam Politik bukan malah simpati terhadap korban kemanusiaan, melainkan makin memperbesar resistensi terhadap barat. Yang mengemuka adalah semangat anti-barat. Apapun yang datang dari barat senantiasa dikecam dan ditolak.

Mengerasnya sikap Islam Politik juga seiring dengan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang semakin keras juga, terutama menyangkut konflik Israel-Palestina dan rencana serangan ke Irak. Ini justru memberikan amunisi bagi reaksi yang semakin kencang dari kalangan Islam Politik. Kendatipun demikian, perihal yang tidak bisa diabaikan begitu saja, bahwa potensi-pontensi bagi terbentuknya pemahaman keagamaan yang menjurus pada terorisme dalam tradisi Islam bisa didapatkan dengan mudah. Ini biasanya disebabkan pandangan tekstual terhadap kitab suci.

Seandainya dapat dilihat dari segi kontekstual agama Islam sendiri secara lebih dekat, dapat dilihat bahwa sebenarnya islam sendiri tidak mengajarkan cara “BOM BUNUH DIRI” atau “TEROR”. Hanya orang-orang muslim yang mungkin salah berpersepsi tentang makna “JIHAD” yang menganggap bahwa mati dalam “Ritual Bom Bunuh Diri” adalah surga balasannya.

Padahal dalam Al-Qur’an dengan jelas Allah pun telah menegaskan,

Allah berfirman:

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian.” (An-Nisa`: 29)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka dia akan diadzab dengannya di hari kiamat.”

Dalam agama islam (Seseorang hendaknya) berusaha untuk menjaga dirinya, dan apabila disyariatkan jihad maka hendaknya berjihad bersama muslimin. Sehingga apabila terbunuh maka alhamdulillah. Adapun dia membunuh dirinya dengan memasang ranjau/bom pada dirinya sehingga terbunuh bersama mereka atau melukai dirinya bersama mereka (adalah) salah, tidak diperbolehkan. Akan tetapi berjihad adalah bila disyariatkan jihad bersama muslimin. Adapun apa yang dilakukan pemuda-pemuda Palestina, maka itu salah, tidak boleh. Hanyalah yang wajib mereka lakukan adalah berdakwah kepada jalan Allah, taklim dan bimbingan serta nasihat tanpa melakukan perbuatan tersebut. (Dinukil dari buku Fatawa Al-A`immah Fin Nawazil Al-Mudlahimmah, hal. 179). (Herdiani, http://www.facebook.com/notes/nina-bilfagih/bom-bunuh-diri-jihad-atau-jahat/199587509837, akses 3 Januari 2010)

Namun beberapa media barat mendeskripsikan islam adalah “agama radikal” dimana semua orang muslim pasti menganggap non-muslim sebagai kafir dan mereka beranggapan bahwa orang-orang muslim akan membunuh setiap kafir. Padahal dalam pandangan Islam sendiri sebenarnya istilah “kafir” pun tidak sesederhana itu dan kemudian dapat dijadikan sebuah kata tunggal yang bermakna satu dan orang islam diharuskan memiliki perlakuan sama terhadap kata “kafir”. Sebenarnya TIDAK, karena islam sendiri telah menggolong-golongkan istilah kafir itu sendiri menjadi beberapa 4 bagian:

1. Golongan kafir Dzimmi

yaitu golongan kafir yang hidup berdampingan dengan muslim, golongan kafir Dzimmi nggak boleh diperangi. Mereka orang kafir yang membayar upeti atau pajak kepada Muhammad dan takluk pada Syariah Islam. Ia boleh hidup berdampingan dengan muslim dan golongan kafir Dzimmi tidak boleh diganggu, sebab mengganggunya sama saja dengan menghina Muhammad yang telah menerima upeti atau pajak darinya.

Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa yang mengganggu seorang kafir Dzimmi maka aku yang menjadi lawannya nanti pada hari kiamat!”. [HR. Al Khathib dalam At Tarikh dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dengan sanad shahih]

“Barangsiapa menyakiti orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku, dan siapa yang menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah” [HR. Thabrani].

2. Golongan kafir Mu’aahad

yaitu golongan kafir yang tidak memerangi islam, golongan kafir Mu’aahad tidak boleh diperangi. Mereka adalah kafir dari sebuah negara yang mana negara tersebut telah menjalin kerjasama dan kontrak perdamaian dengan Muhammad atau Khalifah Islam. Kafir ini tidak beloh diperangi selama periode perjanjian damai antar dua negara tersebut, dan jika perjanjian berakhir maka baru boleh diperangi.

Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang membunuh seorang kafir Mu’aahad maka dia tidak akan mencium aroma wangi al Jannah (padahal) sesungguhnya aroma wangi al Jannah itu didapati (tercium) sejauh perjalanan 40 tahun.”[HR. Al Bukhari]

3. Golongan kafir Musta’min

yaitu golongan kafir yang dilindungi, golongan kafir Musta’min tidak boleh diperangi. Mereka adalah kafir yang menjadi duta, seperti wakil negara, pelajar atau pedagang yang statusnya sebagai teman dengan perjanjian dan kafir ini tidak boleh diperangi melainkan harus dilindungi selama ia sebagai duta, utusan, pelajar atau pedagang sesuai perjanjian dengan Khalifah Islam.

“Dan jika salah seorang dari kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya”

[QS. At Taubah :6]

4. Golongan kafir Harbi

yaitu golongan yang memerangi Islam, yaitu golongan kafir yang harus diperangi. Mereka adalah kaum kafir yang dengan sengaja memerangi agama Allah, merebut wilayah kekuasaan kaum muslimin, menindas kaum muslimin. —-> kafir inilah yang dimaksud Allah diperbolehkan untuk diperangi dan dibunuh (darahnya dihalalkan).

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

[Qs Al Baqarah :190].

(Herdiani, http://www.facebook.com/notes/nina-bilfagih/bom-bunuh-diri-jihad-atau-jahat/199587509837, akses 3 Januari 2010)

Isu Terorisme & Serangan Terhadap Islam

Mengutip Djalil, (http://m.serambinews.com/news/view/12357/media-islam-dan-terorisme, akses 9 Januari 2010) J. Oliver Boyd-Barret, sarjana Inggris pernah mendefinisikan imperialisme media sebagai bentuk proses di mana dengan cara kepemilikan pribadi, struktur, distribusi, berusaha melakukan pengaruh melalui tekanan media terhadap sebuah negara, bangsa atau seseorang tanpa diberikan hak jawab yang seimbang. Sejak tahun 1979, barat khususnya media Amerika memberikan berbagai “cap” dan stigma buruk terhadap Islam.

Saat ini Islam dianggap sebagai ancaman bagi ideologi kebebasan yang tumbuh subur di dunia Eropa dan Amerika. Islam dianggap ancaman karena Islam bukan hanya sebagai sebuah agama, namun lebih kepada ideologi atau cara pandang hidup (way of life) umatnya.

Sebenarnya isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh Islam mencoba membidik Islam dan kaum Muslimin di balik isu terorisme. Mereka takut dengan bangkitnya kaum muslimin. Dengan demikian mereka berusaha sekuat tenaga dan dengan berbagai macam cara untuk menghancurkan kebangkitan kaum Muslimin, salah satunya dengan melancarkan perang melawan terorisme. Saat ini umat Islam menjadi tertuduh dan semua ketakutan dengan segala hal tentang Islam, karena selalu dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis Islam dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia serta membantu aktivitas terorisme.

Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau berangkat mengaji. Padahal hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempatnya di mana, dan segala macam secara berulang-ulang. Bahkan di sebuah wilayah, beberapa orang yang hendak melakukan khuruj (aktivitas yang rutin dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di sebuah masjid, ditolak warga setempat pasca pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Warga setempat tak mau daerahnya dijadikan tujuan orang luar. Mereka takut orang-orang tersebut terlibat terorisme. Sikap paranoid ini muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme sejak penyerbuan di Temanggung, Jawa Tengah. Bukannya obyektif, pemberitaan di media massa cenderung menstigmatisasi negatif Islam dan kaum muslimin.

Belum jelas benar siapa pelakunya, media massa langsung menyorot pesantren. Pesantren dianggap mengajarkan jihad dan ini menjadi inspirasi para teroris. Media massa pun sibuk mencari latar belakang orang-orang yang diduga teroris dengan melakukan interogasi dan inkuisisi terhadap almamater, keluarga, dan para tetangga. Tampa disaring, berita isu langsung disiarkan. Padahal tidak semua sumber berita yang didapatkannya layak disiarkan. Hal yang sama tidak pernah dilakukan terhadap para koruptor. Adakah media massa yang pernah mengaitkan koruptor dengan almamaternya? Kemudian menyatakan bahwa unversitas X telah mengajarkan korupsi? Atau mencari guru dan dosennya karena dianggap sebagai inspirasi untuk korupsi?

Sikap media ini tidak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menjadikan media sebagai corong dalam menyerang Islam dan kaum muslimin. Lihat saja bagaimana media massa seolah jadi ‘orang bodoh’ dan menurut saja dengan arahan sumber-sumber mereka. Sikap kritis mereka hilang. Bahkan untuk mencari alternatif narasumber lagi. Sampai-sampai ketika sumber-sumber berita mereka memberitakan berita yang salah pun, ditelan mentah-mentah. Perhatikan ketika penyerangan di Temanggung terjadi, dalam siaran langsungnya, mereka seperti koor menyanyikan lagu bahwa teroris yang terbunuh adalah gembong teroris Noordin M Top. Ternyata bukan.

Telah terjadi trial by the press (pengadilan oleh meda massa), yang dampaknya jauh lebih kejam. Media pun tergiring oleh frame berpikir musuh-musuh Islam yang menggeneralisasi para teroris dengan Islam. Isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya disebarluaskan dan dikerjakan oleh media massa yang pada hakikatnya untuk menghilangkan kebangkitan Islam. Ironisnya, media massa seolah maklum saja dengan tindakan brutal Amerika dan sekutunya menebar bom dan kematian di mana-mana. Media massa tidak pernah menyebut mereka sebagai teroris, meski korban tewas jauh lebih banyak dan massif.

Media memang telah menjadi alat bagi kapitalisme global dalam mempertahankan hegemoninya. Di era informasi dimana kemenangan ditentukan oleh penguasa sumber-sumber informasi, media massa adalah salah satu pilar kapitalisme. Barat paham betul bahwa Islam adalah musuh berikutnya setelah komunisme runtuh. Islam adalah ancaman. Karenanya, kebangkitan Islam mesti dihalang-halangi. Caranya bisa melalui hard dan soft power. Untuk itu barat dan antek-anteknya mendekonstruksi persepsi masyarakat terhadap Islam untuk melahirkan sikap moderat bahkan liberal. Mereka tidak mau Islam tampil apa adanya sesuai Al Quran dan As Sunnah. Sikap moderat dan liberal ini dianggap pas dengan hegemoni dan determinasi barat.

Sangat tidak mengherankan bila di tengah isu terorisme yang sedang hangat sekarang tiba-tiba muncul pernyataan beberapa tokoh yang mencoba menggeneralisasi bahwa terorisme itu adalah keinginan menerapkan syariah Islam dalam Daulah Islam. Mereka mencoba menebar ‘pukat harimau’ untuk menjaring aktivis pergerakan Islam. Mereka sepertinya tutup mata-atau memang sengaja terhadap fakta bahwa tidak semua gerakan yang memperjuangkan syariah Islam dan khilafah setuju dengan aksi terorisme. Modus mereka ini sama dan sebangun dengan gaya Amerika dan barat umumnya melihat Islam pasca tragedi WTC pada September 2001.

Tak mengherankan bila banyak pihak yang menganalisis bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia ini sengaja dimainkan oleh pihak asing. Tujuannya adalah melemahkan umat Islam Indonesia sehingga Islam tidak bisa bangkit menjadi sebuah kekuatan yang besar di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.

Kehebatan Framing dan Ekologi Media

Media massa menanamkan suatu kesadaran tertentu ke dalam benak publik dalam bentuk berita. Narasi dalam sebuah berita pada akhirnya mengantarkan kepada interprestasi tertentu, diinternalisasikan oleh publik dan pada akhirnya diasumsikan menjadi sebuah realitas. Devito (1997: 75) mengatakan: “Asumsi atau persepsi adalah proses dengan mana seseorang menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera kita.” Seperti yang kita sadari selama ini bahwa pengungkapan realitas yang dilakukan oleh media yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus meneruslah yang akhirnya berdampak pada persepsi publik. Media massa dengan segala kuasa dan kelebihannya menggunakan framing berita untuk mengendalikan persepsi publik dan mengendalikannya sesuai dengan kehendak realitas yang mereka angkat. Setiap berita yang diangkat oleh media ditulis berdasarkan sudut pandang individu penulis maupun invidu redaksi berita. Menurut McLuhan (seperti dikutip West dan Turner, 2008: 141) berdasarkan teori ekologi media bahwa media diinterprestasikan dalam artian luas yang selalu hadir dalam kehidupan kita. Jadi mau tak mau tanpa kita sadari keberadaan media saat ini benar-benar telah seolah seperti kebutuhan yang tak terelakkan lagi. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa kita dengan jelas secara langsung pasti dipengaruhi oleh media.

Selama ini media hanya selalu memandang segi nama “Teroris” hanya dari sebelah mata saja. Dengan imbas islam lah yang selalu jadi topik sasaran berita, Islam selalu terpojokkan dengan sebutan “AGAMA TERORIS” yang pemeluknya menganut ajaran radikal. Deskriminasi terhadap agama islam pun sudah mulai dirasa terlihat diluar nalar. Media yang menyadari bahwa telah dicandui oleh publik maka dapat dengan mudahnya merealisasikan berita-berita tentang “Terorisme Islam”, merealisasikan bahwa islam adalah agama yang keji, menciptakan framing berita sesuai dengan kehendak atmosfir keinginan mereka. Namun seringkali jarang dan bahkan hampir tidak pernah meng-expose berita-berita tentang muslim-muslim yang terjajah, muslim-muslim yang dibantai tanpa ampun. Misalnya, di Palestina terjadi pencaplokan wilayah besar-besaran hingga mencapai 90% oleh Israel, namun media sering kali luput untuk memberitakannya. AS membantai sekitar sejuta Muslim di Iraq dan Afghanistan. India membantai Muslim di Kashmir. Cina membantai Muslim Uighur di Xin Jiang. Rusia membantai Muslim di Chechnya. Burma membantai Muslim Rohingya. Thailand membantai Muslim di Pattani, dll. Dapat dikatakan bahwa hanya sedikit redaksi media yang mengulas dan mengungkap realitas yang benar-benar real tentang islam.

Pendeskriminasian ini pun berdampak buruk terhadap kehidupan sosial para muslim di seluruh dunia. Menurut Huntington (seperti dikutip Lull, 2007: 119):

Many Muslims immigrant have not assimilayed weel into european societies – for reasons have not to do not only with cultural attitudes held by immigrants, but also because of discrimnation meted out by many of their host – the existance of distinct and largely separate communities representing two different (and competing) civilizations may be creating a continent od dividd “cleft societies”.”

Pemberitaan yang menyudutkan ini tak hanya membuat kontroversi tentang islam makin meruncing namun juga tanpa disadari sedikit banyak memberi kontribusi dalam proses perpecahan belah antar umat muslim sendiri. Umat muslim sendiri mulai takut terhadap agam yang dipeluknya sendiri. Merasa takut dengan mereka muslim lain yang berpenampilan kaffah atau dalah pandangan awam disebut “Islam Fanatik” atau lebih ekstremnya lagi disebut dengan sebutan “Islam Radikal”. Selain menebar ketakutan dikalangan muslim, euforia yang sama berhasil diciptakan media pada kalangan non muslim. Mereka yang ketakutan terhadap istilah “Teroris Islam” mulai mengantisipasi perlindungan diri terhadap agama islam. Misalnya munculnya larangan berjilbab di negara-negara eropa. Di Perancis beberapa orang menyatakan sikap permusuhannya terhadap sekitar 5 juta warga Muslim Perancis dengan mengatakan, “Jilbab merupakan bentuk agresi bagi warga Perancis”, larangan berjilbab tak hanya muncul sebagai perundang-undangan di Perancis, namun juga mulai merambah negara-negara lain yang akhirnya mengeluarkan aturan yang sama. Negara-negara tersebut diantaranya adalah Amerika, Inggris, Belgia, Jerman dll. Ketakutan akan islam pun mulai merambah pada perbuatan ekstrem seperti yang terjadi di Jerman seorang pria menusukkan pisau dapur berukuran 16 sentimeter sebanyak 16 kali ke tubuh wanita muslim yang berjilbab dan ironisnya wanita ini tengah mengandung 3 bulan. Melihat keadaan seperti ini para muslim yang merasa diintimidasi akan mulai berontak dan melakukan serangkaian aksi membela sesama muslim yang lain, meski terkadang jalur yang dipilih pun tak selalu benar. Kondisi seperti ini tentu saja menarik bagi media untuk meliputnya, meliput konflik tentang kemarahan kaum muslim dan lebih menuju peliputan tindakan-tindakan ekstrem kaum muslim selama membela diri dan tidak mempedulikan alasan kaum muslim kenapa mereka berlaku demikian. Inilah yang akhirnya hanya akan makin memperuncing konflik eksternal maupun internal di kalangan muslim sendiri dan juga akan mempertebal rasa permusuhan para non muslim untuk memusuhi. Karena bagi mereka yang tidak mengerti dengan duduk perkara yang terjadi, mereka hanya akan mengambil mentah dari setiap fakta dan realitas yang diungkap media. Padahal seandainya semua media dapat benar-benar sebagai wadah penyalur informasi sesuai realitas yang ada, tentu saja publik tidak akan mudah terpecah belah dalam berasumsi dan menentukan sikap kepada kaum muslim.

Penutup

Ibarat sayur yang tanpa garam itulah perumpamaan keberadan media massa ditengah kehidupan masyarakat. Keberadaannnya yang seolah menjadi candu telah menghipnotis publik, ketiadaannya akan menjadikan masyarakat kehausan dan selalu mencari-cari. Kemampuannya dalam mengolah berita dan menjadikannya sebagai konsumsi publik benar-benar telah menunjukkan betapa media memiliki kekuasaan dalam mengendarai pemikiran publik. Namun seharusnya media benar-benar menjadi sumber informasi yang akurat, sumber informasi fleksibel yang memandang dan menyoroti berbagai masalah dari dua sudut pandang, sehingga dengan demikian ibarat penyajian makanan, maka media dapat memberi sarana kepada publik untuk memilih tentang bagaimana nantinya mereka menelan berita yang mereka konsumsi, memberi fasilitas kepada publik untuk menentukan pada kondisi atau situasi berita seperti apa mereka bersikap dan membiarkan publik bereksplorasi sendiri terhadap informasi yang mereka peroleh. Jadi tidak sepenuhya menyetir dan merubah asumsi. Seperti kasus-kasus yang terjadi dengan agama islam sendiri, berdasarkan dari fakta yang didapat, pencitraan “Islam yang Damai” telah berubah menjadi “Islam yang Penuh Terror” hal ini akibat dari pemberitaan media yang cenderung lebih menyudutkan dan terlalu sering mengkonotasikan islam sebagai agama yang penuh kekerasan. Dan dampak negatif dari semua ini tak lain adalah terjadinya perpecahan dan rasa saling memusuhi tak hanya antar golongan non muslim terhadap kaum muslim tapi permusuhan juga tak jarang terjadi antar kaum muslim sendiri, karena merasa saling curiga.

Dan sebagai pihak yang menelan berita, masyarakat pun harus berhati-hati terhadap terpaan media massa dan sebaiknya tidak langsung terburu-buru berasumsi, terburu-buru bertindak dan berspekulasi apabila hanya mendapat informasi dari satu sisi saja. Sebaiknya disisir terlebih dahulu berita-berita yang diungkap media, dan berhati-hati agar tidak mudah terpancing dengan isu provokasi media yang menyudutkan golongan-golongan tertentu. Sehingga masyarakat dapat menjadi lebih bijak dalam menilai segala situasi yang ada, tidak mudah terpancing amarah dan bertindak ekstrem.

Daftar Pustaka

Barrat, David. Media Sociology . London and New York: Routledge, 1994.

Chomsky, Noam. Pirates and Emperors: International Terrorism in the Real World, terj. Jalaludin Rakhmat. Bandung: Mizan, 1991.

Devito, Joseph A. Human Communication, terj. Agus Maulana. Jakarta: Professional Books, 1997.

Louw, P. Eric. The Media and Cultural Production. London : Sage Publications, Ltd., 2001.

Lull, James. Culture on Demand: Communicatin in a Crisis World. Australia: Blackwell Publishing, 2007.

Marpaung, Rusdi, Al Araf. Terorisme: Definisi, Aksi dan Regulasi. Jakarta: Imparsial, 2003.

McCombs, Maxwell. Setting the Agenda: the Mass Media and Public Oppinion. Cambridge: Polity Press, 2006.

Penny, Simon. Critical Issues in Electronic Media. United States of America: State Univercity of New York Press, 1995.

Potter, W. James. Media Literacy, Second Edition. United States of America: Sage Publications, Inc., 2001.

Rao, Sandhya, Srinivas R. Melkote. Critical Issues in Communication: Looking Inward for Answer. New Delhi: Sage Publications India Pvt Ltd, 2001.

Rivers, William L, Jay W. Jensen, Theodore Peterson, Media Massa dan Masyarakat Modern, Edisi Kedua, Jakarta: Kencana, 2003.

West, Richard, Lynn H. Turner. Introducing Communication Theory: Analysis and Application, terj. Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika, 2008.

Wilkinson, Paul. Terrorism and the Liberal State. London: Press Ltd, 1977.

Djalil, Phil. H. Munawar. A. “Media, Islam dan Terorisme”

http://m.serambinews.com/news/view/12357/media-islam-dan-terorisme (akses 9 Januari 2010)

Fahmi, Ahmad. “Atas Nama Pemberantasan Terorisme : Kejahatan Media dan Teror Massa”

http://suaraislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=118: atas-nama-pemberantasan-terorisme-kejahatan-media-dan-teror- massa&catid=64:laporan-khusus (akses 7 Januari 2010)

Herdiani, Nina Reza. “Bom Bunuh Diri, Jihad ataukah Jahat?”

http://www.facebook.com/notes/nina-bilfagih/bom-bunuh-diri-jihad-atau- jahat/199587509837 (akses 3 Januari 2010)

“Islam, Teroris, dan Amerika”

http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/islam-teroris-dan-amerika.html (akses 7 Januari 2010)

Lesmana, Tjipta. “Media, Terorisme, dan Islam”

http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A171_0_3_0_M (akses 7 Januari 2010)

Misrawi, Zuhairi. “Islam dan Terorisme”

http://islamlib.com/id/artikel/islam-dan-terorisme ( akses 5 Januari 2010)


[1] Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia dengan Nomor Induk Mahasiswa 08321042.

Untuk memenuhi tugas Dasar-Dasar Penulisan semester 3

Media Sebagai “Alat Pemanas” Dunia Politik


Media Sebagai “Alat Pemanas” Dunia Politik

Oleh: Nina Reza Herdiyani

Seperti yang diketahui bahwa media merupakan salah satu pembentuk opini yang paling hebat. Karena media dapat memfokuskan perhatian publik dan memengaruhi persepsi publik tentang apa yang menjadi isu penting. Kemampuan memengaruhi dan mengarahkan publik agar berpikir tentang isu tertentu, sehingga menjadi prioritas pemikiran dan topik pembicaraan, dikenal sebagai peran penempatan agenda media (Maxwell McCombs, 2006: 11).

Kemampuannya yang luas dalam mempengaruhi aspek pemikiran sosial masyarakatlah yang sering digunakan oleh para politikus untuk meraih simpati demi naiknya image mereka maupun untuk menjatuhkan lawan politiknya. Bagi para politikus, media adalah merupakan sarana komunikasi politik dimana kemampuan media dalam membentuk opini publik dapat dimanfaatkan untuk memberi pengaruh sosialisi dan partsipasi masyarakat terhadap pemberian suara dan kebijakan pejabat dalam mengambil keputusan, hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nimmo tentang hubungan antara komunikasi politik dan opini publik, ia berpendapat bahwa tujuan komunikasi politik adalah untuk pembentukan pendapat umum (Nimmo, 2006:1-20).  Media juga memiliki peran penting akan keberhasilan dari para politikus yang melakukan kampanye. Tujuan dari kampanye media tersebut adalah, pertama mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang. Kedua, mengubah sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang. Ketiga, menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Terakhir, memperkenalkan etika , atau menawarkan sistem nilai tertentu. (Nurudin, 2007: 72)

Tak hanya para politikus yang akan diuntungkan apabila media berhasil membentuk opini publik atas mereka, namun juga media yang menjadi sarana propaganda juga meraup keuntungan yang tak sedikit, misalnya pemasangan iklan SBY bersama partai demokrat di harian Kompas yang ditaksir menghabiskan dana senilai 500juta (Gatra, Nomor 42/ 28 Agustus 2008). Inilah mengapa hubungan para politikus dan media dapat juga dikatakan sebagai simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.

Memanasnya situasi dunia politik tak jarang juga disebabkan oleh media yang terkadang mengeksplorasi berita terlalu berlebihan sehingga kondisi politik yang tengah memanas makin gerah oleh komentar-komentar media. Misalnya argument-argument saling menyerang melalui media yang digunakan oleh beberapa politikus untuk melemahkan posisi lawannya sering kita lihat tertulis besar atau bahkan mungkin menjadi headline sebuah surat kabar. Misalnya berita tentang Megawati yang dengan terang-terangan mencibir dan merendahkan pemerintahan SBY pada liputan berita Liputan 6 SCTV dengan berkata bahwa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tidak siap menghadapi badai krisis yang terjadi sejak 2008, dan menurut Mc Nair iklan sejenis ini menekankan pada kelemahan lawan politik (Mc. Nair, 1995: 90).

Seperti halnya ketika akan pemilu, media massa maupun media elektronik dengan ramainya menayangkan iklan-iklan propaganda yang melebihkan salah satu politikus dan sedikit meledek politikus saingannya. Lucu memang terkadang ketika kita menganggap iklan itu sebagai salah satu cara untuk menarik opini publik namun bagi sebagian orang yang dapat dikatakan memiliki fanatisme tinggi terhadap salah satu partai, dengan melihat iklan tersebut malah akan membuat keadaan semakin panas. Merasa dilecehkan dan tersinggung hingga berdampak terhadap ramainya sikap para politikus yang saling menyerang dalam kampanyenya. Tentu saja sikap seperti ini tidak etis, bagaimana seorang politikus yang notabenenya sedang mencalonkan diri sebagai pemimpin malah saling merendahkan lawan melalui media. Pantaskah kita memiliki figur seorang pemimpin yang hobinya merendahkan orang lain?

Media sebagai sarana komunikasi politik terhadap khalayak tidak hanya berperan sebagai “tungku api” yang memanaskan keadaan ketika pemilu. Namun pasca pemilu media juga dapat berfungsi sebagai monitor pengawas dunia politik yaitu dengan menyebarluaskan, menggali dan mengontrol perjalanan pemerintahan melalui produk-produk kerja para politikus di legislatif maupun eksekutif. Peran luas media akan menciptakan gaung yang terus menerus akan mengingatkan para politikus bahwa keberadaan mereka tidak lagi sebebas dulu karena mereka memiliki tanggung jawab atas janji kesejahteraan yang mereka gaungkan saat musim kampanye. Tak jarang juga kita sering melihat media balik menyerang para politikus yang mulai terlihat lalai akan real job-nya sebagai wakil suara rakyat dengan cara menegurnya secara tidak langsung dengan sindiran-sindiran baik sindiran halus maupun sindiran tegas, yaitu melalui pemberitaan media. Inilah kenapa media sering kali memiliki peran sebagai agen ganda yang dapat menjadi sahabat bagi para politikus namun dapat juga dapat berperan sebagai wakil dari suara hati rakyat yang senantiasa mengontrol kinerja sistem politik.

Selain itu pasti tak asing lagi bagi kita apabila melihat aksi demonstrasi atau pengkomunitasan yang diawali oleh kontroversi politik yang diungkap oleh media. Tentang Cicak vs Buaya misalnya, berkat kemampuan media dalam memframing berita, sekarang banyak orang-orang yang mengelompokkan diri dalam sebuah komunitas pendukung kubu ini dan kubu itu. Pengaruh media yang begitu besar dalam mempengaruhi dan membentuk persepsi publik inilah yang terkadang tanpa disadari dapat memicu konflik dan semakin memanaskan dunia politik.

Daftar Pustaka

McCombs, Maxwell. (2006). Setting the Agenda: the Mass Media and Public Oppinion. Cambridge: Polity Press.

McNair, Brian. (1995). An Introduction to Political Communication. London: Routledge.

Nimmo. (2006). Komunikasi Politik : Komunikator, Pesan, Dan Media. Bandung: P.T. Remaja.

Nurudin. (2007). Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

—– (2008). Bersolek Diri Selangit Harganya. Dimuat dalam majalah Gatra 28 Agustus.

Untuk memenuhi tugas Kmunikasi Politik Semester 3

Previous Older Entries