KRITIKAN TERHADAP JURNALISME DI INDONESIA


KRITIKAN TERHADAP JURNALISME  DI INDONESIA

Oleh: Nina Reza Herdiyani (08321042)

 

 

Menurut saya ada beberapa kelemahan dari jurnalisme di Indonesia yang disebabkan oleh sistem kerja pers yang terkadang bekerja seenak mereka sendiri. Bahkan di beberapa koran daerah para wartawan menulis deadline semau mereka (dengan menggunakan kata-kata yang kurang pantas atau menampilkan foto-foto yang tanpa disensor) hal ini jelas telah jelas menunjukkan betapa lemahnya kualitas jurnalisme di Indonesia. Menurut saya salah satu faktor yang mendukung hal ini adalah Budaya Amplop yang marak pada kalangan wartawan, bahkan budaya amplop telah di legalkan. Memang tidak semua budaya amplop dalam bentuk uang atau barang dan fasilitas dapat dikategorikan sebagai suap atau sogokan kecuali jika nilainya sangat besar atau secara rutin menjadi semacam ikatan antara wartawan dan narasumber atau subjek berita. Akan tetapi, “amplop” bernilai kecil pun, bila dianggap sebagai kewajaran dalam pekerjaan pers tetap akan mengganggu integritas wartawan dan dapat menghambat kemajuan profesionalisme jurnalistik mereka.

Selain itu kelemahan standar jurnalistik dapat pula kita lihat pada gaya penyajian tulisan pers yang terbit di surat-surat kabar. Terkadang mereka menyajikan berita yang tidak bias, tidak berimbang dan terkadang cenderung diskriminatif, misalnya mengenai berita tentang “unjuk rasa anarkis yang dilakukan oleh FPI” mereka langsung saja menulis apa yag mereka lihat tanpa diimbangi dengan klarifikasi dari pihak yang dituduh atau dikecam, karena dengan atau tanpa mereka sadari mereka telah membentuk opini publik dengan cara yang salah yaitu dengan menulis dan menyajikan apa yang berada di sudut pandang mereka terlebih dahulu baru kemudian setelah beberapa hari mereka baru meminta klarifikasi atas berita yang mereka tulis sendiri, hal ini sungguh disayangkan karena ternyata para wartawan lebih memilih menampilkan pandangan mereka terlebih dahulu dari pada meminta pernyataan yang jelas kepada narasumber yang bersangkutan.

Berikut ini kesimpulan saya mengenai penyebab kelemahan jurnalisme di Indonesia:

1.      Penyusun berita kurang memahami permasalahan yang dibahas narasumber karena tidak lebih dulu mempelajari materi latar belakang (background information) seperti dari kliping, arsip, atau pustaka lainnya. 
2.      Kurang gencar melakukan wawancara dengan sebanyak mungkin narasumber yang relevan. 
3. Kurang bernalar kritis dalam mengikuti permasalahan atau pernyataan yang hendak diberitakan sehingga "kurang berminat" untuk bertanya secara gencar kepada narasumber. 
4. Tidak mempunyai cukup waktu, antara lain karena terlalu banyak berita yang harus ia "kejar". 
5. Hubungannya dengan narasumber terlalu dekat sehingga tidak ada jarak antara wartawan tersebut dan narasumber. "Hubungan sebagai sahabat" seperti ini dapat mengakibatkan pemberitaan wartawan tersebut tidak objektif dan tidak komprehensif. Hubungan seperti ini 
 dapat diakibatkan antara lain oleh penyediaan "amplop" secara reguler oleh narasumber. 
6. Menganggap narasumber yang berposisi "kuat" dan "berpengaruh" secara politis dan sosial "pasti paling kredibel" dan pandangannya "pasti benar". Bila mereka melancarkan tuduhan atau kecaman, pihak yang dituduh atau dikecam dianggap tidak penting untuk dimintai klarifikasi atau reaksinya.
7. Gaji serta fasilitas kerja wartawan tidak memadai.

Seharusnya para wartawan tetap memegang teguh kode etik jurnalistik sehingga mereka dapat menyajikan berita secara professional dan tidak terperdaya oleh maraknya budaya amplop sekalipun itu telah legal, karena bagaimanapun juga budaya amplop inilah salah satu faktor yang menjadi pendukung kelemahan-kelemahan lain yang ada pada jurnalisme dan ini akan menyebakan hilangnya integritas para wartawan itu sendiri.

Untuk memenuhi tugas Dasar-Dasar Penulisan Semester 2