Life is too short, use it wisely for your own good ^_^


Kalo aja kita ditanya apakah kita sudah siap mati? Spontan hampir sebagian besar dari kita (termasuk saya, hehehehe) akan otomatis menjawab, “Ah jangan sekarang lah gue belom siap, amit-amit ih, amal gue masih kurang nih.” Ketika kita menjawab seperti ini sebenarnya saya yakin bener bahwa kita dalam posisi yang sadar dan meyakini sepenuh hati bahwa panggilan Allah yang disampaikan lewat malaikat Izrail ini datang tanpa aba-aba, datang tanpa bisa diduga, datang tanpa bisa menunggu apakah kita siap atau tidak.

Namun kenyataan bahwa panggilan ini selalu datang mendadak, celakanya hal ini tak cukup ampuh untuk membuat kita melek dan beranjak berdiri. Udah tau Allah suka banget ngasih kejutan tapi sebagai hamba yang katanya masih belum siap, amal kurang dll kita bukannya menyibukkan diri mengumpulkan pundi-pundi amal tapi malah sebaliknya kita dengan ikhlas-nya mendzolimi diri dengan memupuk subur hal-hal yang justru mengundang kemurkaan Allah. Or let’s say, let’s be honest to ourself… terkadang justru kita merasa amal yang sudah kita lakukan itu sudah cukup aman untuk menolong kita one day, ya kan? 🙂 misalnya gini deh… hanya karena kita sudah pernah menunaikan ibadah umrah atau Haji kita jadi ujub dan merasa udah OK amal-amalnya 🙂 atau lagi, kita merasa sedekah kita sudah cukup membuat Allah terkagum-kagum dengan keikhlasan kita, well padahal kata “merasa”  ini adalah kata yang paling berbahaya, kata ini sangat ampuh menjebak diri kita dalam kondisi cukup puas dengan kebaikan yang kita lakukan, dan berujung pada kita lupa jika maksiat yang kita lakukan akan dengan mudah membakar seluruh amal kebaikan kita menjadi abu. Astaghfirullah naudzubillah 😦

Saya setiap hari nyaris selalu wondering dan berpikir betapa mulia-nya si Fulan A,B,C,D yang selama ini benar-benar mendedikasikan dirinya untuk Allah, berjuang untuk Allah, menginspirasi banyak orang. 🙂 Saya selalu berpikir, “yaa Allah ini orang pasti “kaya” banget yah amalnya” yes karena konsep investasi amal kan seperti MLM ya, makin banyak yang tergerak karena kita maka Allah akan semakin sayang kepada kita dan otomatis kita jadi makin “kaya” dong. Dan jujur saya sama sekali tidak peduli dengan kehidupan si Fulan A, B, C, D ini di belakang mata lahir saya. Saya “tidak peduli” apakah dia benar-benar mengaplikasikan setiap dakwahnya kepada dirinya atau tidak, saya tidak akan menyibukkan diri untuk mencoba mencari tau kufurnya mereka. Dalam urusan memandang amal kebaikan orang lain saya lebih pasrah mempercayai pandangan mata lahir dulu aja deh, karena hal ini memudahkan saya untuk selalu bercermin,”dia udah berbuat ini loh, elu udah belom?”. I think this one is much more useful for my mind dari pada sibuk nyari kufurnya orang kesana sini 🙂

Life’s too short to wake up with regrets dear.. so use it wisely I just can’t imagine… nanti ketika tiba masanya kalau mulut sudah dikunci sedangkan kaki dan tangan yang bersaksi kita bisa apa? Yes absolutely we can do nothing! 😦 “ Wahai manusia… Kau habiskan untuk apa masa mudamu?” Kalau Allah udah nanya kaya gini nanti apa yang akan kita jawab? Masa iya kita mau berani jawab,” Kami bekerja untuk mengejar dunia dong, kan kata Engkau itu masuk dalam kategori ibadah, kami sedekah juga kok, kami senang menyibukkan diri dalam bekerja tapi agak molorin jam sholat dikit ga papa lah ya, kami punya banyak cara untuk menyenangkan manusia tapi tak mahir menyenangkan Engkau, ga papa kan Yaa Allah? Engkau kan maha mengerti 🙂 Kami lebih merasa aman jika belajar ilmu agama (islam) seadanya soalnya kami takut menjadi fanatik dan tidak gaul jika terlalu rajin, kami senang melihat orang susah dengan susah melihat orang senang.” Naudzubillah 😦

Yaa Allah.. Yaa Allah 😦  rasanya malu ketika kita nampak seolah menjadikan dunia sebagai ladang ibadah tapi tanpa sadar yang justru kita kejar mati-matian bukan cinta Allah tapi isi dunia itu sendiri. Kita bekerja dengan dalih ibadah, namun hakikat ibadah wajib kita kepada Allah justru kita kebiri waktunya, kita beri Allah sisa 😦 kita memilih waktu untuk bermunajat kepada Allah bukan di awal-awal waktu namun malah di akhir-akhir sisa waktu kita 😦

image

Yaa Allah please guide us all the way, please dont make this world is our biggest concern 😦 yaa Allah letakkan-lah dunia ini dalam genggaman tangan kami jangan di hati kami :’)

Iklan

Hakikat Menjaga Silaturrahim…


Dari dulu sampai hari ini saya selalu kagum dengan seseorang yang begitu hangat, ramah dan menyenangkan ketika diajak berdiskusi. Selalu semangat menghidupkan topik diskusi kami karena prinsipnya adalah tidak ada yang sia-sia dalam silaturrahim karena didalam silaturrahim salah satunya kita bisa intens saling berbagi ilmu, saling mengingatkan, saling menjaga dan yang paling romantis dari semua itu adalah saling mendoakan :’) ya.. Ukhuwah itu sangat menyenangkan. Sangat! :’)

Kita tidak akan pernah bisa melupakan begitu saja siapapun mereka teman seperjuangan yang mengenalkan dan selalu sabar mengajak kita menuju Allah. Walaupun setiap hal yang kita jalani telah dituliskan Allah di lauhul mahfudz tapi setiap orang yang Allah telah sengaja hadirkan dalam hidup kita bukan tanpa peran. Allah menjadikan setiap orang dalam hidup kita adalah sosok yang dapat kita ambil kebaikannya dan merefleksikannya ke dalam diri kita. Jadi sebenarnya kita berhutang budi dengan setiap orang dalam hidup kita. Tanpa mereka yang dari awal bersama kita,, kita tak mungkin akan mampu menjadi seperti kita yang saat ini berdiri kokoh dalam keimanan, siapapun mereka.

Seorang sahabat pernah mengatakan, kita harus berteman dengan siapapun tanpa terkecuali. Yes… kita harus berkawan dengan siapapun mereka bahkan kita harus membuka diri berteman dengan mereka yang (kita anggap) memiliki perilaku buruk sekalipun. Why? Karena Hikmah Allah bertebaran di muka bumi, hikmah Allah terdapat dalam setiap diri manusia, dan kita menjadi manusia yang paling beruntung apabila kita mampu bijaksana dan cerdas dalam menerjemahkan hikmah itu. Dengan membuka diri untuk mengenali setiap orang, maka kita akan mampu menjadi sosok muslim yang open minded, kita akan faham dan bijak ketika  mendakwahkan islam tanpa menyakiti hati, kita akan faham benar bahwa ada bedanya menyampaikan dakwah dalam bahasa fiqih tidak sama dengan komunikasi massa.

Kulil haqqu walau kana murron (sampaikanlah kebenaran walau itu pahit) terkadang banyak yang salah memaknai hadist di atas. Banyak dari kita yang menyampaikan dakwah (kebenaran yang pahit aja) dengan bahasa yang tanpa sadar menyakiti mad’u (jamaah) dan pada akhirnya tak ada secuil kebaikan pun yang dapat menembus hati orang lain. Kita menjadi sosok yang tak pandai mengolah kata-kata, how comee?  salah satu penyebabnya adalah karena kita gagal untuk memahami bahwa kondisi setiap orang berbeda. Kita jarang bergaul, kita hanya sibuk dengan kalangan kita yang (kita anggap) memang sudah faham betul tentang fiqih dan lalala. Kita lupa tentang dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung, kita lupa bahwa Allah sendiri pun yang meminta kita untuk menyampaikan kalimatnya dengan lemah lembut agar dapat diterima (QS. 2:159). Allah sendiri  yang menjadikan kita heterogen dan majemuk agar saling mengenal, menjalin silaturrahim (QS. 49:13) tapi justru kita sendiri-lah yang mengkotak-kotakkan diri dan hanya memilih berteman dengan kalangan A, B,C, D dan menutup diri dengan lainnya. Atau naudzubillah-nya hingga kita sampai terjangkit penyakit ashobiyah atau perasaan yang tanpa sadar menganggap dirinya atau kelompoknya lebih baik dari lainnya. 😦

Bagi siapapun yang sangat faham memaknai ukhuwah akan benar-benar mejaga ketat barisan hari-hari mereka dalam silaturrahim. Mereka yang cerdas mengelola hubungannya dengan sesama manusia (hablum minannas) akan menjadikan setiap orang sebagai temannya tanpa pandang bulu, namun mereka juga tetap mengikat dirinya dengan bersahabat dengan orang-orang sholeh yang sama-sama berjuang menuju Allah. Kenapa? Karena kita selalu saling membutuhkan sahabat-sahabat kita yang sholeh agar ilmu kita semakin bertambah, agar kita kita tetap terikat di dalam barisan orang-orang yang membantu kita mengokohkan iman, agar ada mereka orang-orang yang menyayangi kita karena Allah yang selalu dengan setia menjaga kita lewat nasehat dan doa-doa. Dan sahabat-sahabat sesama pejuang inilah yang kelak juga akan bersaksi di hadapan Allah tentang sahabat-sahabatnya, mereka akan berusaha menyelamatkan sahabatnya apabila perbuatan khilafnya di dunia menyebabkan ia harus terseret jatuh ke dalam naar.. :’) Betapa beruntungnya mereka yang selalu terjaga dalam ukhuwah yang saling menjaga ketaatan kepada Allah :’)

SO… agar kita dapat menjadi manusia yang benar-benar bermanfaat untuk banyak orang, kita tidak seharusnya mengandalkan egosentris. Jika kita ingin benar-benar Islam diterima dengan baik oleh siapapun maka kita wajib belajar menjadi manusia yang dapat menginterprestasikan Rahmatan Lil Alamin secara utuh. How? It’s simple… make friends, belajar dari siapapun, berteman dengan siapapun, just be nice to people.. Spread the good deeds to the other people in a good way, and Bi-idznillah they’ll see the truly good in us, in Islam and in our ukhuwah. Once again, tidak pernah ada sia-sia-nya dalam menjaga silaturrahim. InsyaAllah ^_^

image

A love letter to the Most Merciful…


Dear Allah yang Maha Sempurna…

Dear Allah yang tercinta…
Yaa Allah Sayangi kami, muliakan kedua orang tua kami, jagalah seluruh sahabat-sahabat kami yang senantiasa berjuang menuju-Mu, mampukan kami…
Karena kami selalu berharap suatu saat nanti Jannah adalah tempat terbaik bagi kami untuk berkumpul :’)

Dear Allah yang maha romantis…
Yaa Allah jadikanlah kami hamba-hamba yang selalu dekat dengan pertolongan-Mu :’)
Jadikanlah usia kami adalah sebaik-baik usia yang dapat bermanfaat bagi sesama kami
Yaa Allah jadikanlah kami pejuang-pejuang agama-Mu yang benar-benar meletakkan-Mu sebagai tujuan…

Dear Allah yang Maha Menjaga
Yaa Allah… mudahkanlah kami melawan diri kami sendiri untuk terus berlari mendekati-Mu 😥
Yaa Allah… jagalah barisan hari hari kami dalam keimanan dan ketaatan yang membuat-Mu semakin jatuh cinta :’)

Dear Allah yang Maha Menyayangi…
Dan Allah tolong janganlah engkau wafatkan kami sebelum kami bermanfaat… 😦
Yaa Allah jika kelak rindu itu akan terbayar, wafatkanlah kami dalam sebaik-baiknya keadaan.
Wafatkanlah kami dalam keadaan yang telah Engkau penuhi dengan rasa cinta-Mu dan jauh terjaga dari murka-Mu :’)

image

NZ-1927