Hakikat Menjaga Silaturrahim…


Dari dulu sampai hari ini saya selalu kagum dengan seseorang yang begitu hangat, ramah dan menyenangkan ketika diajak berdiskusi. Selalu semangat menghidupkan topik diskusi kami karena prinsipnya adalah tidak ada yang sia-sia dalam silaturrahim karena didalam silaturrahim salah satunya kita bisa intens saling berbagi ilmu, saling mengingatkan, saling menjaga dan yang paling romantis dari semua itu adalah saling mendoakan :’) ya.. Ukhuwah itu sangat menyenangkan. Sangat! :’)

Kita tidak akan pernah bisa melupakan begitu saja siapapun mereka teman seperjuangan yang mengenalkan dan selalu sabar mengajak kita menuju Allah. Walaupun setiap hal yang kita jalani telah dituliskan Allah di lauhul mahfudz tapi setiap orang yang Allah telah sengaja hadirkan dalam hidup kita bukan tanpa peran. Allah menjadikan setiap orang dalam hidup kita adalah sosok yang dapat kita ambil kebaikannya dan merefleksikannya ke dalam diri kita. Jadi sebenarnya kita berhutang budi dengan setiap orang dalam hidup kita. Tanpa mereka yang dari awal bersama kita,, kita tak mungkin akan mampu menjadi seperti kita yang saat ini berdiri kokoh dalam keimanan, siapapun mereka.

Seorang sahabat pernah mengatakan, kita harus berteman dengan siapapun tanpa terkecuali. Yes… kita harus berkawan dengan siapapun mereka bahkan kita harus membuka diri berteman dengan mereka yang (kita anggap) memiliki perilaku buruk sekalipun. Why? Karena Hikmah Allah bertebaran di muka bumi, hikmah Allah terdapat dalam setiap diri manusia, dan kita menjadi manusia yang paling beruntung apabila kita mampu bijaksana dan cerdas dalam menerjemahkan hikmah itu. Dengan membuka diri untuk mengenali setiap orang, maka kita akan mampu menjadi sosok muslim yang open minded, kita akan faham dan bijak ketika  mendakwahkan islam tanpa menyakiti hati, kita akan faham benar bahwa ada bedanya menyampaikan dakwah dalam bahasa fiqih tidak sama dengan komunikasi massa.

Kulil haqqu walau kana murron (sampaikanlah kebenaran walau itu pahit) terkadang banyak yang salah memaknai hadist di atas. Banyak dari kita yang menyampaikan dakwah (kebenaran yang pahit aja) dengan bahasa yang tanpa sadar menyakiti mad’u (jamaah) dan pada akhirnya tak ada secuil kebaikan pun yang dapat menembus hati orang lain. Kita menjadi sosok yang tak pandai mengolah kata-kata, how comee?  salah satu penyebabnya adalah karena kita gagal untuk memahami bahwa kondisi setiap orang berbeda. Kita jarang bergaul, kita hanya sibuk dengan kalangan kita yang (kita anggap) memang sudah faham betul tentang fiqih dan lalala. Kita lupa tentang dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung, kita lupa bahwa Allah sendiri pun yang meminta kita untuk menyampaikan kalimatnya dengan lemah lembut agar dapat diterima (QS. 2:159). Allah sendiri  yang menjadikan kita heterogen dan majemuk agar saling mengenal, menjalin silaturrahim (QS. 49:13) tapi justru kita sendiri-lah yang mengkotak-kotakkan diri dan hanya memilih berteman dengan kalangan A, B,C, D dan menutup diri dengan lainnya. Atau naudzubillah-nya hingga kita sampai terjangkit penyakit ashobiyah atau perasaan yang tanpa sadar menganggap dirinya atau kelompoknya lebih baik dari lainnya. 😦

Bagi siapapun yang sangat faham memaknai ukhuwah akan benar-benar mejaga ketat barisan hari-hari mereka dalam silaturrahim. Mereka yang cerdas mengelola hubungannya dengan sesama manusia (hablum minannas) akan menjadikan setiap orang sebagai temannya tanpa pandang bulu, namun mereka juga tetap mengikat dirinya dengan bersahabat dengan orang-orang sholeh yang sama-sama berjuang menuju Allah. Kenapa? Karena kita selalu saling membutuhkan sahabat-sahabat kita yang sholeh agar ilmu kita semakin bertambah, agar kita kita tetap terikat di dalam barisan orang-orang yang membantu kita mengokohkan iman, agar ada mereka orang-orang yang menyayangi kita karena Allah yang selalu dengan setia menjaga kita lewat nasehat dan doa-doa. Dan sahabat-sahabat sesama pejuang inilah yang kelak juga akan bersaksi di hadapan Allah tentang sahabat-sahabatnya, mereka akan berusaha menyelamatkan sahabatnya apabila perbuatan khilafnya di dunia menyebabkan ia harus terseret jatuh ke dalam naar.. :’) Betapa beruntungnya mereka yang selalu terjaga dalam ukhuwah yang saling menjaga ketaatan kepada Allah :’)

SO… agar kita dapat menjadi manusia yang benar-benar bermanfaat untuk banyak orang, kita tidak seharusnya mengandalkan egosentris. Jika kita ingin benar-benar Islam diterima dengan baik oleh siapapun maka kita wajib belajar menjadi manusia yang dapat menginterprestasikan Rahmatan Lil Alamin secara utuh. How? It’s simple… make friends, belajar dari siapapun, berteman dengan siapapun, just be nice to people.. Spread the good deeds to the other people in a good way, and Bi-idznillah they’ll see the truly good in us, in Islam and in our ukhuwah. Once again, tidak pernah ada sia-sia-nya dalam menjaga silaturrahim. InsyaAllah ^_^

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: