Show them…


Jangan memaksakan diri agar semua orang menghargai usaha kita. Karena pd dasarnya bahkan ketika kita sdh menjadi lebih baik pun akan tetap ada orang2 yang selalu mencibir masa lalu kita. 🙂

Dan Akan selalu ada orang2 yg meremehkan dan mengungkit2 kekurangan kita seolah2 mereka tdk pernah melakukan kesalahan yang SAMA. ☺
Dan sedihnya lagi most of them memang seems so expert loh ketika mengungkit2 kekurangan kita tanpa faham bagaimana caranya mengingat atau mengapresiasi usaha kita 🙂

Well… Ada saatnya dimana kita memang harus sadar bahwa bukan pengakuan manusia yang kita butuhkan. Karena memang indra manusia sangat terbatas untuk bisa menilai kebaikan orang lain dengan benar2 objektif tanpa harus melibatkan prasangka negatif.:) HasybiAllah… 😌

Kuncinya adalah kita,  jika orang lain menyakiti masa lalu kita terus menerus, maafkan. Ishbir… ikhlasin aja… 😄 it’s normal:)

But show them! Ajari mereka bagaimana caranya menjaga aib dan kekurangan kita dengan cara  kita tidak menyebutkan aib dan kekhilafan mereka di hadapan banyak org, walau kenyataannya kita mengetahui kekurangan mereka.❤

Apa kata Allah? ^_^


Pengen share a lil conversation, ga ush ditanya siapa si A dan siapa si B. Tp mdh2an bermanfaat yah. 🙂

A: kamu ga takut ditegur pake jilbab yg ga sesuai sama ketentuan “disini”?

B: engga si, tp ya emang agak deg deg an si, tp kan dr awal komitmen nya pake jilbab krn Allah, apapun tantangannya ga pengen ngelonggarin sedikit pun prinsip hanya krn takut sm manusia. malu sm Allah. Masa Allah udh kasih banyak hanya krn takut ini itu aku harus menggadaikan salah satu bntuk ketaatan aku 😀

A: Kan kmrn km sampe dikatain, nanti kalo knp2 gmn?

B: hmm… sorry yah mgkin kedengerannya lebay tapi yaa gmn ya, ak ngerasa ga bisa berbuat apa2 untuk Islam sebanyak sahabat2 Rasulullah dlu. Paling ga, ak pengen lah berjuang kyk mereka yg ttp teguh sama ketaataany. Bilal ditimpa batu aja sambil dipanasin dibawah terik matahari aja masih ikhlas nyebut nama Allah. Asiyah smpe dibakar hidup2 sama fir’aun aja ttp teguh. Ya secara kalo aku kan ga sebanding sm mereka yg segitunya, masa aku ini yg “cuma” mempertahankan jilbab aja ga berani, takut sm manusia? apa kata Allah 😀

A: tapi kan apa km ga ngerasa lebay? Kan Allah maha memahami. Islam ga sulit ko jangan dipersulit lah dikit2 bawa agama.

B: Ga ah, ak ga mau kejebak sm statement sekuler kaya gt. Kalo kalimat itu dipakai untuk konsep yg taat gpp. Misal tanpa sengaja ak nglakuin perkara yg sebenernya syubhat, nah krn ga tau aku ga kena beban syariat , di konteks ini sbenernya “Allah maha memahami” bru bs dipake. Tp masa kita ini yg break the rule, kita berani ngomong gt, padahal kita jelas2 tau yg kita lakuin itu salah. apa kata Allah?

Misal gini, udah ada aturan barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja itu besar dosanya, dan hukum ini paten ga main main ngerinya. Which is itu ttp jd hutang kita sm Allah yg ga akan pernah terbayar. Trus one day krn banyak bgt kerjaan kita molorin jam sholat smpe endingnya terbiasa ninggalin sholat, in this case masa iya sih ga malu kalo kita bilang,”Allah kan maha memahami.” 

Urusan dosa mmg hanya Allah yg tau, tp masa iya kita ga tau mana yg “yes” mana yg “no” dr Allah? Ga tau apa pura2 ga mau atau atau emg kitanya yg udah sekuler?

A: mmm… iya sih ya… faham aku skrg.

Ikhlas…


Ketika Allah mengambil sesuatu yg paling kita sayang, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan itu pasti, indeed haqqul yaqin… karena Allah tidak pernah ingkar janji…

Ikhlas dengan semua ketetapan Allah. Biarkan waktu berlalu dengan segala suka dukanya. Lapangkan jiwa dalam menerima segala keputusan Allah. Jangan bersedih hanya karena kejadian yang menyakitkan, karena tidak ada satu pun yg mampu kekal di bumi Allah termasuk kesedihan hati. Dan, hanya dengan mengingat Allah hati akan merasa tenang. 🙂

Today is the final day ketika Allah seolah langsung bilang,”sudah ikhlas kan” Dan sekaligus ngerasa Allah negur diri bahwa perasaan yg ga nyaman dan sedih ini jangan sampai dirasain sm orang lain :’)

Allah maha tau mengapa sampai senyum dan ramah tamah yg baik itu dimasukkan dalam sunnah-nya silaturrahim, sunnah yg bisa dapetin pahala dr Allah…

Karena berbuat ma’ruf kepada saudara seiman kita pun  tidak mudah. Karena Allah faham bahwa bagi manusia  sedekah senyum kepada saudara kita aja itu bisa jd mahal harganya. Dan tidak semua orang bisa, bahkan mereka yg merasa dirinya beriman pun seringkali banyak yg kesulitan berbagi senyum dan bersikap ramah kepada orang lain.

So grateful still having this time-less precious gift tht will never change itself forever… Thank you for being my best unconditionally :’)

Good nite Kong… :):):):)

image

Life is too short, use it wisely for your own good ^_^


Kalo aja kita ditanya apakah kita sudah siap mati? Spontan hampir sebagian besar dari kita (termasuk saya, hehehehe) akan otomatis menjawab, “Ah jangan sekarang lah gue belom siap, amit-amit ih, amal gue masih kurang nih.” Ketika kita menjawab seperti ini sebenarnya saya yakin bener bahwa kita dalam posisi yang sadar dan meyakini sepenuh hati bahwa panggilan Allah yang disampaikan lewat malaikat Izrail ini datang tanpa aba-aba, datang tanpa bisa diduga, datang tanpa bisa menunggu apakah kita siap atau tidak.

Namun kenyataan bahwa panggilan ini selalu datang mendadak, celakanya hal ini tak cukup ampuh untuk membuat kita melek dan beranjak berdiri. Udah tau Allah suka banget ngasih kejutan tapi sebagai hamba yang katanya masih belum siap, amal kurang dll kita bukannya menyibukkan diri mengumpulkan pundi-pundi amal tapi malah sebaliknya kita dengan ikhlas-nya mendzolimi diri dengan memupuk subur hal-hal yang justru mengundang kemurkaan Allah. Or let’s say, let’s be honest to ourself… terkadang justru kita merasa amal yang sudah kita lakukan itu sudah cukup aman untuk menolong kita one day, ya kan? 🙂 misalnya gini deh… hanya karena kita sudah pernah menunaikan ibadah umrah atau Haji kita jadi ujub dan merasa udah OK amal-amalnya 🙂 atau lagi, kita merasa sedekah kita sudah cukup membuat Allah terkagum-kagum dengan keikhlasan kita, well padahal kata “merasa”  ini adalah kata yang paling berbahaya, kata ini sangat ampuh menjebak diri kita dalam kondisi cukup puas dengan kebaikan yang kita lakukan, dan berujung pada kita lupa jika maksiat yang kita lakukan akan dengan mudah membakar seluruh amal kebaikan kita menjadi abu. Astaghfirullah naudzubillah 😦

Saya setiap hari nyaris selalu wondering dan berpikir betapa mulia-nya si Fulan A,B,C,D yang selama ini benar-benar mendedikasikan dirinya untuk Allah, berjuang untuk Allah, menginspirasi banyak orang. 🙂 Saya selalu berpikir, “yaa Allah ini orang pasti “kaya” banget yah amalnya” yes karena konsep investasi amal kan seperti MLM ya, makin banyak yang tergerak karena kita maka Allah akan semakin sayang kepada kita dan otomatis kita jadi makin “kaya” dong. Dan jujur saya sama sekali tidak peduli dengan kehidupan si Fulan A, B, C, D ini di belakang mata lahir saya. Saya “tidak peduli” apakah dia benar-benar mengaplikasikan setiap dakwahnya kepada dirinya atau tidak, saya tidak akan menyibukkan diri untuk mencoba mencari tau kufurnya mereka. Dalam urusan memandang amal kebaikan orang lain saya lebih pasrah mempercayai pandangan mata lahir dulu aja deh, karena hal ini memudahkan saya untuk selalu bercermin,”dia udah berbuat ini loh, elu udah belom?”. I think this one is much more useful for my mind dari pada sibuk nyari kufurnya orang kesana sini 🙂

Life’s too short to wake up with regrets dear.. so use it wisely I just can’t imagine… nanti ketika tiba masanya kalau mulut sudah dikunci sedangkan kaki dan tangan yang bersaksi kita bisa apa? Yes absolutely we can do nothing! 😦 “ Wahai manusia… Kau habiskan untuk apa masa mudamu?” Kalau Allah udah nanya kaya gini nanti apa yang akan kita jawab? Masa iya kita mau berani jawab,” Kami bekerja untuk mengejar dunia dong, kan kata Engkau itu masuk dalam kategori ibadah, kami sedekah juga kok, kami senang menyibukkan diri dalam bekerja tapi agak molorin jam sholat dikit ga papa lah ya, kami punya banyak cara untuk menyenangkan manusia tapi tak mahir menyenangkan Engkau, ga papa kan Yaa Allah? Engkau kan maha mengerti 🙂 Kami lebih merasa aman jika belajar ilmu agama (islam) seadanya soalnya kami takut menjadi fanatik dan tidak gaul jika terlalu rajin, kami senang melihat orang susah dengan susah melihat orang senang.” Naudzubillah 😦

Yaa Allah.. Yaa Allah 😦  rasanya malu ketika kita nampak seolah menjadikan dunia sebagai ladang ibadah tapi tanpa sadar yang justru kita kejar mati-matian bukan cinta Allah tapi isi dunia itu sendiri. Kita bekerja dengan dalih ibadah, namun hakikat ibadah wajib kita kepada Allah justru kita kebiri waktunya, kita beri Allah sisa 😦 kita memilih waktu untuk bermunajat kepada Allah bukan di awal-awal waktu namun malah di akhir-akhir sisa waktu kita 😦

image

Yaa Allah please guide us all the way, please dont make this world is our biggest concern 😦 yaa Allah letakkan-lah dunia ini dalam genggaman tangan kami jangan di hati kami :’)

Hakikat Menjaga Silaturrahim…


Dari dulu sampai hari ini saya selalu kagum dengan seseorang yang begitu hangat, ramah dan menyenangkan ketika diajak berdiskusi. Selalu semangat menghidupkan topik diskusi kami karena prinsipnya adalah tidak ada yang sia-sia dalam silaturrahim karena didalam silaturrahim salah satunya kita bisa intens saling berbagi ilmu, saling mengingatkan, saling menjaga dan yang paling romantis dari semua itu adalah saling mendoakan :’) ya.. Ukhuwah itu sangat menyenangkan. Sangat! :’)

Kita tidak akan pernah bisa melupakan begitu saja siapapun mereka teman seperjuangan yang mengenalkan dan selalu sabar mengajak kita menuju Allah. Walaupun setiap hal yang kita jalani telah dituliskan Allah di lauhul mahfudz tapi setiap orang yang Allah telah sengaja hadirkan dalam hidup kita bukan tanpa peran. Allah menjadikan setiap orang dalam hidup kita adalah sosok yang dapat kita ambil kebaikannya dan merefleksikannya ke dalam diri kita. Jadi sebenarnya kita berhutang budi dengan setiap orang dalam hidup kita. Tanpa mereka yang dari awal bersama kita,, kita tak mungkin akan mampu menjadi seperti kita yang saat ini berdiri kokoh dalam keimanan, siapapun mereka.

Seorang sahabat pernah mengatakan, kita harus berteman dengan siapapun tanpa terkecuali. Yes… kita harus berkawan dengan siapapun mereka bahkan kita harus membuka diri berteman dengan mereka yang (kita anggap) memiliki perilaku buruk sekalipun. Why? Karena Hikmah Allah bertebaran di muka bumi, hikmah Allah terdapat dalam setiap diri manusia, dan kita menjadi manusia yang paling beruntung apabila kita mampu bijaksana dan cerdas dalam menerjemahkan hikmah itu. Dengan membuka diri untuk mengenali setiap orang, maka kita akan mampu menjadi sosok muslim yang open minded, kita akan faham dan bijak ketika  mendakwahkan islam tanpa menyakiti hati, kita akan faham benar bahwa ada bedanya menyampaikan dakwah dalam bahasa fiqih tidak sama dengan komunikasi massa.

Kulil haqqu walau kana murron (sampaikanlah kebenaran walau itu pahit) terkadang banyak yang salah memaknai hadist di atas. Banyak dari kita yang menyampaikan dakwah (kebenaran yang pahit aja) dengan bahasa yang tanpa sadar menyakiti mad’u (jamaah) dan pada akhirnya tak ada secuil kebaikan pun yang dapat menembus hati orang lain. Kita menjadi sosok yang tak pandai mengolah kata-kata, how comee?  salah satu penyebabnya adalah karena kita gagal untuk memahami bahwa kondisi setiap orang berbeda. Kita jarang bergaul, kita hanya sibuk dengan kalangan kita yang (kita anggap) memang sudah faham betul tentang fiqih dan lalala. Kita lupa tentang dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung, kita lupa bahwa Allah sendiri pun yang meminta kita untuk menyampaikan kalimatnya dengan lemah lembut agar dapat diterima (QS. 2:159). Allah sendiri  yang menjadikan kita heterogen dan majemuk agar saling mengenal, menjalin silaturrahim (QS. 49:13) tapi justru kita sendiri-lah yang mengkotak-kotakkan diri dan hanya memilih berteman dengan kalangan A, B,C, D dan menutup diri dengan lainnya. Atau naudzubillah-nya hingga kita sampai terjangkit penyakit ashobiyah atau perasaan yang tanpa sadar menganggap dirinya atau kelompoknya lebih baik dari lainnya. 😦

Bagi siapapun yang sangat faham memaknai ukhuwah akan benar-benar mejaga ketat barisan hari-hari mereka dalam silaturrahim. Mereka yang cerdas mengelola hubungannya dengan sesama manusia (hablum minannas) akan menjadikan setiap orang sebagai temannya tanpa pandang bulu, namun mereka juga tetap mengikat dirinya dengan bersahabat dengan orang-orang sholeh yang sama-sama berjuang menuju Allah. Kenapa? Karena kita selalu saling membutuhkan sahabat-sahabat kita yang sholeh agar ilmu kita semakin bertambah, agar kita kita tetap terikat di dalam barisan orang-orang yang membantu kita mengokohkan iman, agar ada mereka orang-orang yang menyayangi kita karena Allah yang selalu dengan setia menjaga kita lewat nasehat dan doa-doa. Dan sahabat-sahabat sesama pejuang inilah yang kelak juga akan bersaksi di hadapan Allah tentang sahabat-sahabatnya, mereka akan berusaha menyelamatkan sahabatnya apabila perbuatan khilafnya di dunia menyebabkan ia harus terseret jatuh ke dalam naar.. :’) Betapa beruntungnya mereka yang selalu terjaga dalam ukhuwah yang saling menjaga ketaatan kepada Allah :’)

SO… agar kita dapat menjadi manusia yang benar-benar bermanfaat untuk banyak orang, kita tidak seharusnya mengandalkan egosentris. Jika kita ingin benar-benar Islam diterima dengan baik oleh siapapun maka kita wajib belajar menjadi manusia yang dapat menginterprestasikan Rahmatan Lil Alamin secara utuh. How? It’s simple… make friends, belajar dari siapapun, berteman dengan siapapun, just be nice to people.. Spread the good deeds to the other people in a good way, and Bi-idznillah they’ll see the truly good in us, in Islam and in our ukhuwah. Once again, tidak pernah ada sia-sia-nya dalam menjaga silaturrahim. InsyaAllah ^_^

image

A love letter to the Most Merciful…


Dear Allah yang Maha Sempurna…

Dear Allah yang tercinta…
Yaa Allah Sayangi kami, muliakan kedua orang tua kami, jagalah seluruh sahabat-sahabat kami yang senantiasa berjuang menuju-Mu, mampukan kami…
Karena kami selalu berharap suatu saat nanti Jannah adalah tempat terbaik bagi kami untuk berkumpul :’)

Dear Allah yang maha romantis…
Yaa Allah jadikanlah kami hamba-hamba yang selalu dekat dengan pertolongan-Mu :’)
Jadikanlah usia kami adalah sebaik-baik usia yang dapat bermanfaat bagi sesama kami
Yaa Allah jadikanlah kami pejuang-pejuang agama-Mu yang benar-benar meletakkan-Mu sebagai tujuan…

Dear Allah yang Maha Menjaga
Yaa Allah… mudahkanlah kami melawan diri kami sendiri untuk terus berlari mendekati-Mu 😥
Yaa Allah… jagalah barisan hari hari kami dalam keimanan dan ketaatan yang membuat-Mu semakin jatuh cinta :’)

Dear Allah yang Maha Menyayangi…
Dan Allah tolong janganlah engkau wafatkan kami sebelum kami bermanfaat… 😦
Yaa Allah jika kelak rindu itu akan terbayar, wafatkanlah kami dalam sebaik-baiknya keadaan.
Wafatkanlah kami dalam keadaan yang telah Engkau penuhi dengan rasa cinta-Mu dan jauh terjaga dari murka-Mu :’)

image

NZ-1927

KRITIKAN TERHADAP JURNALISME DI INDONESIA


KRITIKAN TERHADAP JURNALISME  DI INDONESIA

Oleh: Nina Reza Herdiyani (08321042)

 

 

Menurut saya ada beberapa kelemahan dari jurnalisme di Indonesia yang disebabkan oleh sistem kerja pers yang terkadang bekerja seenak mereka sendiri. Bahkan di beberapa koran daerah para wartawan menulis deadline semau mereka (dengan menggunakan kata-kata yang kurang pantas atau menampilkan foto-foto yang tanpa disensor) hal ini jelas telah jelas menunjukkan betapa lemahnya kualitas jurnalisme di Indonesia. Menurut saya salah satu faktor yang mendukung hal ini adalah Budaya Amplop yang marak pada kalangan wartawan, bahkan budaya amplop telah di legalkan. Memang tidak semua budaya amplop dalam bentuk uang atau barang dan fasilitas dapat dikategorikan sebagai suap atau sogokan kecuali jika nilainya sangat besar atau secara rutin menjadi semacam ikatan antara wartawan dan narasumber atau subjek berita. Akan tetapi, “amplop” bernilai kecil pun, bila dianggap sebagai kewajaran dalam pekerjaan pers tetap akan mengganggu integritas wartawan dan dapat menghambat kemajuan profesionalisme jurnalistik mereka.

Selain itu kelemahan standar jurnalistik dapat pula kita lihat pada gaya penyajian tulisan pers yang terbit di surat-surat kabar. Terkadang mereka menyajikan berita yang tidak bias, tidak berimbang dan terkadang cenderung diskriminatif, misalnya mengenai berita tentang “unjuk rasa anarkis yang dilakukan oleh FPI” mereka langsung saja menulis apa yag mereka lihat tanpa diimbangi dengan klarifikasi dari pihak yang dituduh atau dikecam, karena dengan atau tanpa mereka sadari mereka telah membentuk opini publik dengan cara yang salah yaitu dengan menulis dan menyajikan apa yang berada di sudut pandang mereka terlebih dahulu baru kemudian setelah beberapa hari mereka baru meminta klarifikasi atas berita yang mereka tulis sendiri, hal ini sungguh disayangkan karena ternyata para wartawan lebih memilih menampilkan pandangan mereka terlebih dahulu dari pada meminta pernyataan yang jelas kepada narasumber yang bersangkutan.

Berikut ini kesimpulan saya mengenai penyebab kelemahan jurnalisme di Indonesia:

1.      Penyusun berita kurang memahami permasalahan yang dibahas narasumber karena tidak lebih dulu mempelajari materi latar belakang (background information) seperti dari kliping, arsip, atau pustaka lainnya. 
2.      Kurang gencar melakukan wawancara dengan sebanyak mungkin narasumber yang relevan. 
3. Kurang bernalar kritis dalam mengikuti permasalahan atau pernyataan yang hendak diberitakan sehingga "kurang berminat" untuk bertanya secara gencar kepada narasumber. 
4. Tidak mempunyai cukup waktu, antara lain karena terlalu banyak berita yang harus ia "kejar". 
5. Hubungannya dengan narasumber terlalu dekat sehingga tidak ada jarak antara wartawan tersebut dan narasumber. "Hubungan sebagai sahabat" seperti ini dapat mengakibatkan pemberitaan wartawan tersebut tidak objektif dan tidak komprehensif. Hubungan seperti ini 
 dapat diakibatkan antara lain oleh penyediaan "amplop" secara reguler oleh narasumber. 
6. Menganggap narasumber yang berposisi "kuat" dan "berpengaruh" secara politis dan sosial "pasti paling kredibel" dan pandangannya "pasti benar". Bila mereka melancarkan tuduhan atau kecaman, pihak yang dituduh atau dikecam dianggap tidak penting untuk dimintai klarifikasi atau reaksinya.
7. Gaji serta fasilitas kerja wartawan tidak memadai.

Seharusnya para wartawan tetap memegang teguh kode etik jurnalistik sehingga mereka dapat menyajikan berita secara professional dan tidak terperdaya oleh maraknya budaya amplop sekalipun itu telah legal, karena bagaimanapun juga budaya amplop inilah salah satu faktor yang menjadi pendukung kelemahan-kelemahan lain yang ada pada jurnalisme dan ini akan menyebakan hilangnya integritas para wartawan itu sendiri.

Untuk memenuhi tugas Dasar-Dasar Penulisan Semester 2

Previous Older Entries